10/14/2020

Bagaimana Masa Depanku Nanti?

     Apa hal yang paling menakutkan dalam hidup? kebanyakan orang menjawab kematian. Apalagi meninggal sebelum berbuat apapun, membahagiakan orang tua misalnya. Kematian memanglah hal yang tidak bisa dihindari, yang kedatangannya pun tidak bisa dipungkiri dan di prediksi. Muda, sehat, tidak berpenyakit, bukanlah jaminan untuk hidup lebih lama daripada orang tua renta dan sakit-sakitan. Begitulah hidup, tidak ada yang tahu bagaimana akhirnya. Cukup melakukan yang terbaik dan menabung kebaikan untuk bekal kita kelak.

    Setiap orang selalu ingin memiliki pencapaian. Idealisme manusia adalah lahir, sekolah, berprestasi, bekerja, membahagiakan orang tua, menikah, punya anak, dan hidup bahagia. Seringkali mereka lupa bahwa setiap kelahiran pasti ada kematian. Membahas hal seperti ini memang sangat tidak nyaman dan menakutkan. Hidup bukan melulu tentang idealis tapi ada saatnya untuk realistis.

    Pernahkah kalian merenungkan satu kata ini? Bersyukur.

    Bersyukur memang kata yang sederhana, akan tetapi maknanya luar biasa. Manusia yang mudah bersyukur hidupnya akan penuh dengan kebahagiaan. Benarkah? Saya bisa menjamin. Tapi kak, aku selalu bersyukur kok, tapi kenapa hidupku tidak pernah bahagia? Hallo, apakah kalian yakin kalian sudah bersyukur? atau hanya sekedar berucap syukur?

    Bersyukur memang bisa diawali dengan ucapan syukur, tapi sejatinya, syukur yang sesunguhnya adalah belajar ikhlas dalam menerima semua pemberian yang maha kuasa, belajar bersabar tanpa suudzon dengan sang pencipta, dan belajar berdamai dengan ego dan nurani kita. Sesulit itu memang bersyukur, tapi aku yakin, banyak orang-orang di luar sana yang seperti itu.

    Ali bin Abi thalib pernah berkata, Betapa bodohny manusia, dia menghancurkan masa kini sambil mengkhawatirkan masa depan, tapi menangis di masa depan dengan mengingat masa lalunya. Sungguh miris, dan itulah kenyataannya. Aku tidak munafik dengan berdalih bahwa aku tidak pernah memikirkan dan mengkhawatirkan bagaimana masa depanku kelak, sedangkan aku di saat ini masih sibuk berada di zona nyaman dengan segala kemudahan. Tidak berusaha memperbaiki diri tapi malah sibuk memikirkan hal yang belum pasti.

    Ayok sekarang ubah pola pikir kita. Jangan sibuk memikirkan masa depan seperti meninggal, pencapaian yang berlebihan, atau sesuatu yang sekiranya belum tahu dan belum tentu akan terjadi, akan tetapi sibuklah dengan dirimu saat ini. Sibuk memperbaiki dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin agar jika saatnya tiba nanti semua hal akan terasa siap dan kata menyesal akan berkurang dari hidupmu. Mulailah dari hal kecil untuk memperoleh sesuatu yang besar, tidak saling meremahkan dan menghancurkan. Jadilah manusia yang saling menguatkan dan saling mengingatkan tentang kebaikan. Berhentilah mengkhawatirkan hal yang belum terjadi ya sayang, yok berubah bareng-bareng.

By: Belle

1 komentar:

  1. Kereeen..keliatan banget perkembangan cara penulisannya, kalo diliat dari tulisan-tulisan yang sebelumnya. Berharap bisa baca tulisannya lagi ke depannya.

    Semangat terus Belle~
    Jangan lupa jadi orang baik :)

    BalasHapus